Asal Usul Mustika Sumur Jalatunda

Hari minggu pagi, kang Masrukhan mengunjungi Prambanan. Mungkin ini adalah suatu keputusan yang keliru dimana hari minggu merupakan hari libur dan banyak sekali orang yang mengunjungi candi Prambanan di hari libur.

 

Hari itu, kang Masrukhan sama sekali tidak melakukan ritual apapun di candi. Beliau hanya berkeliling menikmati keindahan candi bentukan Bandung Bondowoso. Saat berjalan-jalan beliau membayangkan betapa kuatnya cinta Bandung pada Roro Jonggrang, hingga sumur raksasa dan seribu candi pun rela ia buat dalam satu malam saja.

 

Disisi lain, beliau juga terpikir akan kecantikan dan kemolekan Roro Jonggrang. Mungkin kecantikan yang luar biasa itulah yang mampu menyihir Bandung, yang kala itu berambisi untuk menghabisi Patih Gupolo dan seluruh rakyat Prambanan, hingga berbalik niat dan rela melakukan sesuatu yang besar yang luar biasa untuk Kanjeng Putri Roro Jonggrang.

 

Seluruh sudut di candi Prambanan sudah beliau kunjungi termasuk candi Boko atau keraton Boko. Namun tak lengkap rasanya jika tidak menilik sumur Jalatunda. Sore itu pula kang Masrukhan langsung menuju lokasi sumur yang terkenal paling besar di Indonesia.

 

Saat memasuki area Sumur Jalatunda, udara dingin langsung menyergap kang Masrukhan. Jika melihat ke belakang, inilah satu-satunya situs yang berhubungan dengan Roro Jonggrang yang belum pernah dikunjungi kang Masrukhan.

 

Sesampainya di lokasi kang Masrukhan melakukan ritual. Sungguh, ritual yang dilakukan beliau sama sekali bukan untuk mendapatkan ‘sesuatu’. Beliau hanya ingin menghormati sejarah yang telah mengukirkan peristiwa masa lalu beserta seluruh pelakunya itu.

 

Dinginnya malam itu sama sekali tidak bisa membuat kang Masrukhan tidur. Beliau pun hanya melihat-lihat saja. Syukurlah malam itu ada mbah Dhowo, terjadilah perbincangan diantara keduanya. keberadaan mbah Dhowo membuat dinginnya malam di sumur Jalatunda tidak terlalu menyiksa tubuh kang Masrukhan yang kala itu memang tidak mengenakan pakaian tebal.

 

Sepanjang malam mbah Dhowo bercerita panjang lebar mengenai sumur Jalatunda atau tentang polah tingkah masyarakat sekitar. Saking serunya perbincangan di antara keduanya, tak terasa fajar sudah menjelang. Saat hendak pamit pulang, samar-samar kang Masrukhan melihat cahaya di tepi sumur Jalatunda. Karena penasaran, kang Masrukhan pun turun ke dalam sumur tanpa menghiraukan peringatan yang diucapkan mbah Dhowo.

 

Selama kang Masrukhan ngerekel (menuruni sumur tanpa bantuan peralatan apapun) tak henti-hentinya mbah Dhowo berteriak mencoba memperingatkan betapa bahayanya tindakan kang Masrukhan tersebut. Namun seolah tak mempedulikan bahaya yang mengintainya itu, kang Masrukhan terus saja menuruni sumur.

 

Sesampainya di tepi sumur, kang Masrukhan mencelupkan tangannya ke dalam sumur untuk menggapai cahaya tersebut. Ternyata tak sedangkal kelihatannya, kang Masrukhan pun tercebur ke dalam sumur raksasa itu. Segera saja ia meraih sumber cahaya itu. Benar juga dugaannya, itu adalah batu mustika.

 

Sesampainya di atas, kang Masrukhan menerawang ada apa di balik kecantikan batu mustika yang baru didapatkannya itu. Aneh, beliau sama sekali tidak bisa melihat kekuatan di balik mustikanya. Berkali-kali beliau mencoba menerawang tetap saja sama, tak ada apapun di dalamnya. Akhirnya beliau memutuskan pulang ke Kudus dengan membawa mustika barunya itu.

 

Sesampainya di Semarang, beliau banting stir menuju Prambanan. Mungkin saja beliau mendapatkan jawabannya di Prambanan, begitulah pikir beliau saat itu.

 

Setibanya di Prambanan beliau melakukan ritual. Cukup aneh memang melakukan ritual di siang bolong di antara lalu lalang pengunjung Prambanan. Tapi situasi semacam ini sama sekali tidak menggugurkan niat kang Masukhan untuk melakukan ritual.

 

Selesai dengan prosesi ritual yang cukup singkat itu, kang Masrukhan mencoba melihat ke dalam mustikanya. Tampak sebuah kekuatan yang saling tarik-menarik, namun kekuatannya sangat kecil sekali, jika tidak jeli bisa saja kekuatannya tidak terlihat lagi seperti saat penerawangan di sumur Jalatunda.

 

Akhirnya kang Masrukhan balik ke Kudus setelah minta ijin untuk membawa pulang mustikanya. Dalam perjalanan pulang, benak kang Masrukhan dipenuhi dengan sebuah tanda tanya besar, yakni bagaimana cara membangkitkan kekuatan yang terdapat dalam mustika itu. Sesampainya di Kudus, beliau beristirahat sejenak di lantai atas kantor Asosiasi Parapsikologi Nusantara demi melepas lelah usai perjalanan jauh.

 

Saat terbangun, segera kang Masrukhan meminta mbak Noor untuk membuatkan makanan. Sambil memasak, mbak Noor pun bertanya kepada kang Masrukhan kemana saja seminggu ini kok tidak pernah ke kantor.

"Seminggu? cuma tiga hari kok mbak saya tidak ke kantor." kang Masrukhan mencoba menjelaskan.

"Seminggu kang..!" kata mbak Noor mengoreksi

"Cuma tiga hari kok mbak." balas kang Masrukhan

"Seminggu yo kang..!" kata mbak Noor menekankan

kang Masrukhan mencoba melihat kalender, betapa terkejutnya beliau mengetahui seminggu telah berlalu tanpa beliau sadari.

 

Seusai makan, segera kang Masrukhan menuju lantai atas kantor mengambil mustika yang beliau tinggalkan di atas meja. Dengan sigap kang Masrukhan mempersiapkan peralatan yang dbutuhkan untuk melakukan sederetan ritual khusus untuk membangkitkan kekuatan yang ada dalam mustika yang ditemukannya di Sumur Jalatunda.

 

Untuk kedua kalinya beliau dikejutkan hari itu. Karena di tengah-tengah prosesi ritual, tiba-tiba mustikanya mengeluarkan cahaya. Tampak jelas sekali betapa kuatnya kekuatan pengasihan yang ada di dalam mustika. Bahkan saking kuatnya, kekuatannya tampak jelas walaupun saat itu kang Masrukhan tidak melakukan penerawangan.

 

 

 

 

 

 

Alamat Kantor


Perum Pankis Griya - Rumah No.1

Jl. Pakis Raya, RT.01/06, Jepang Pakis

Jati, Kudus, Jawa Tengah,

Indonesia - 59342

 

 

Call Center 1


Telepon & SMS: 085712999772

 

WhatsApp: 085712999772

 

Email: spiritualpower88@gmail.com


 

 

Call Center 2


Telepon & SMS: 082223338771


WhatsApp: 082223338771


Email: bagianpemesanan@gmail.com

 

Untuk respon cepat silahkan

Telepon/SMS

 

*Note : Kode area Indonesia (+62)

Contoh : +6282223338771

 


 

Hari dan Jam Kerja

Call Center Kami


Senin-Sabtu, pukul 08:00-22:00 WIB

Sebelum datang, harap telepon dulu.

 

 

Praktek Supranatural Resmi


Terdaftar di Dinas Kesehatan & Kejaksaan

STPT DINKES: 445/515/04.05/2012

KEJARI: B-18/0.3.18/DSP.5/12/2011

 

Lihat Bukti Legalitas - Klik Disini